Membuat sebuah website seharusnya hanya perkara menulis beberapa baris kode, atau begitulah yang saya kira. Sampai akhirnya saya duduk di depan layar, menatap kedalaman Visual Studio Code seperti menatap jurang yang tidak saya ketahui dasarnya. Baris-baris HTML yang seharusnya sederhana berubah menjadi labirin yang membingungkan. Setiap tag terasa seperti teka-teki yang menantang, dan setiap error seperti tamparan keras yang mengingatkan betapa sedikitnya pengetahuan yang saya punya.

Sungguh, saya hanya ingin membuat website sederhana. Tapi kenapa rasanya seperti sedang mencoba menaklukkan gunung yang belum pernah saya daki?

Pada titik inilah AI muncul. Seperti cahaya samar di tengah kabut, ia menawarkan bantuan. “Cukup bilang apa yang kamu inginkan,” katanya—dalam bentuk teks yang muncul dalam hitungan detik. Dengan penuh harapan, saya menuliskan permintaan: “Buatkan saya template website.”

Dan AI pun menjawab.
Kode mengalir begitu cepat, seperti mantra digital yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Begitu rapi, begitu terstruktur, seperti hasil karya seorang ahli. Jujur saja, saya sempat berpikir, “Ah, kalau begini caranya, membuat website ternyata mudah.”

Namun kenyataan kembali menampar.

Saat saya tempelkan kode itu ke dalam editor, apa yang muncul di layar browser jauh dari apa yang saya bayangkan. Tampilannya berantakan, warnanya tidak sesuai, dan layout-nya seperti jembatan yang setengah jadi. Jantung saya turun. Pikiran saya melayang: “Apa saya salah copy? Salah paste? Atau sebenarnya saya memang tidak berbakat?”

Rasa putus asa mulai muncul. Tapi kemudian, seperti seorang teman yang tidak pernah lelah menjawab pertanyaan, AI kembali membantu.

“Periksa link CSS-nya.”
“Perbaiki penutup tag-nya.”
“Coba tambahkan properti ini.”

Saya mengikuti instruksi itu satu per satu, meski sering kali saya sendiri tidak benar-benar memahami apa yang sedang saya lakukan. Kadang hasilnya berhasil, kadang tidak. Dan setiap kegagalan kecil terasa seperti beban besar—bahwa saya mungkin tidak cukup pintar untuk ini.

Yang paling dramatis adalah ketika halaman website akhirnya berhasil tampil dengan benar. Rasanya seperti melihat sinar matahari setelah berhari-hari hidup dalam awan gelap. Kemenangan kecil itu begitu berarti. Meski hanya header yang muncul sempurna atau tombol yang akhirnya bekerja, saya merasa seperti seorang pahlawan yang berhasil memenangkan pertempuran kecil dalam perang panjang belajar coding.

Namun drama itu tidak berhenti di situ. Kadang AI memberikan solusi yang terlalu rumit, membuat saya kembali tenggelam dalam lautan kode. Kadang apa yang ia berikan tidak bekerja karena kesalahan saya sendiri yang lupa menutup tag <div>. Dan saat error muncul, itu seperti monster yang tidak saya tahu cara melawannya.

Tetapi meski penuh pergulatan batin, saya tetap melanjutkan. Sebab di antara kebingungan, frustrasi, dan rasa nyaris menyerah, ada satu hal yang selalu muncul: keinginan untuk bisa.

Dan AI, meski bukan manusia, telah menjadi saksi setiap keluh kesah saya dari baris kode pertama yang salah hingga halaman website pertama yang akhirnya tampil sempurna. Pada akhirnya, membuat website dengan kemampuan coding yang sangat sangat sangat terbatas adalah kisah drama penuh jatuh bangun. Namun dari drama itulah saya belajar bahwa teknologi bukan hanya alat, melainkan jembatan. Dan meski jembatan itu kadang goyah, ia tetap membawa saya ke tempat yang sebelumnya tidak mungkin saya capai.